9:00 - 16:00 WIB
Senin - Sabtu
Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) yang semakin pesat memunculkan berbagai respons dari kalangan generasi muda. Di satu sisi, teknologi tersebut menawarkan berbagai kemudahan dan peluang baru. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran mengenai masa depan pekerjaan, peran manusia, dan arah pendidikan di era digital.
Fenomena tersebut terlihat dari semakin banyaknya anak muda yang mempertanyakan dampak AI terhadap kehidupan mereka. Berbagai diskusi mengenai profesi yang berpotensi tergantikan teknologi, keterampilan yang masih relevan, hingga jurusan yang dianggap aman dari otomatisasi menjadi topik yang kerap muncul di lingkungan pendidikan.
Sejumlah pengamat menilai bahwa kecemasan yang berkembang bukan semata-mata disebabkan oleh kemajuan teknologi, melainkan oleh ketidakpastian yang menyertai perubahan tersebut. Bagi sebagian generasi muda, AI kini tidak hanya dipandang sebagai inovasi, tetapi juga sebagai simbol perubahan besar yang dapat memengaruhi masa depan mereka.
Meski demikian, berbagai pengalaman sejarah menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu menghilangkan peran manusia. Transformasi yang terjadi justru mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan berinteraksi. Kehadiran komputer, internet, maupun mesin otomatis sebelumnya juga sempat memunculkan kekhawatiran serupa, namun pada akhirnya melahirkan bentuk-bentuk pekerjaan dan kompetensi baru.
Karena itu, perhatian dunia pendidikan kini mulai bergeser dari sekadar penguasaan teknologi menuju penguatan kemampuan yang sulit digantikan mesin. Keterampilan seperti berpikir kritis, kreativitas, kemampuan beradaptasi, kepemimpinan, kolaborasi, hingga empati dinilai akan menjadi modal penting bagi generasi masa depan.
Para pemerhati pendidikan menilai bahwa akses terhadap teknologi yang semakin luas justru membuat kualitas karakter manusia menjadi semakin penting. Kemampuan memahami konteks, membangun kepercayaan, mengambil keputusan yang bijak, dan bekerja sama dengan orang lain merupakan aspek yang hingga kini belum dapat sepenuhnya direplikasi oleh teknologi.
Di tengah derasnya arus inovasi digital, pendidikan dipandang tidak boleh hanya berorientasi pada penciptaan tenaga kerja yang menguasai teknologi. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu membentuk individu yang memiliki integritas, rasa tanggung jawab, serta kemampuan untuk menggunakan pengetahuan demi kepentingan bersama.
Dengan demikian, tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan AI, melainkan memastikan generasi muda tetap berkembang sebagai manusia yang utuh. Sebab, secepat apa pun teknologi berkembang, arah pemanfaatannya pada akhirnya tetap ditentukan oleh kualitas manusia yang menggunakannya.
Sumber: Kompas.com
PT. Indonesia Emas Group (IEG) adalah perusahaan holding yang bergerak dalam bidang pendidikan dan industri kreatif, IEG memiliki beragam bisnis yang saling mendukung meliputi penerbitan dan percetakan, pengadaan alat tulis kantor (ATK), distribusi buku fisik dan digital, serta pengadaan alat peraga pendidikan. Perusahaan ini juga bergerak dalam layanan konsultan pendidikan, serta menyediakan kursus dan pelatihan untuk mendukung pengembangan kompetensi dan keterampilan sumber daya manusia (SDM) di berbagai instansi.
Selengkapnya