9:00 - 16:00 WIB
Senin - Sabtu
Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih menghadapi tantangan dalam aspek keamanan pangan. Peneliti dari BRIN menyoroti adanya titik-titik kritis dalam rantai pengolahan makanan yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan jika tidak dikendalikan secara ketat.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Dede Anwar Musadad, menjelaskan bahwa konsep critical control points (CCP) menjadi kunci dalam memastikan keamanan pangan pada program MBG. CCP merupakan tahapan krusial yang harus diawasi secara ketat untuk mencegah kontaminasi dari berbagai sumber.
Menurutnya, potensi pencemaran dapat berasal dari faktor biologis, kimia, fisik, hingga alergen. Beberapa bakteri patogen seperti Escherichia coli, Salmonella, hingga Staphylococcus aureus kerap ditemukan dalam kasus keracunan makanan.
Dede mengungkapkan, dari berbagai tahapan pengolahan pangan, terdapat tiga fase yang paling berisiko, yakni saat proses memasak, penyimpanan makanan matang, serta jeda waktu sebelum makanan dikonsumsi. Ia menilai, produksi makanan dalam skala besar dengan rantai distribusi yang panjang semakin meningkatkan peluang terjadinya kontaminasi.
Ia menekankan bahwa insiden keracunan sebenarnya dapat dicegah melalui penerapan standar sanitasi yang konsisten. Namun, hingga kini pelaksanaan program MBG dinilai masih membutuhkan penguatan standar operasional yang seragam di seluruh wilayah.
Selain itu, faktor pendukung seperti ketersediaan air bersih, sanitasi lingkungan, penerapan higiene personal, serta pengelolaan limbah yang baik juga menjadi aspek penting dalam menjaga keamanan pangan. Dede mendorong peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta standarisasi fasilitas pengolahan makanan agar program dapat berjalan aman dan berkelanjutan.
Senada dengan itu, peneliti BRIN lainnya, Joko Irianto, menegaskan bahwa pengawasan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan baku hingga tahap penyajian. Ia menyebutkan bahwa kualitas bahan pangan perlu diperiksa melalui berbagai metode, termasuk pengecekan fisik, suhu, hingga uji laboratorium.
Pada tahap penyimpanan, pengaturan suhu dan kelembaban harus diperhatikan, serta penerapan sistem FIFO (first in, first out) untuk mencegah bahan makanan kedaluwarsa digunakan. Sementara dalam proses pengolahan, tenaga kerja diwajibkan memiliki sertifikasi, menggunakan alat pelindung diri, serta menerapkan prinsip keamanan pangan seperti HACCP.
Ia juga menambahkan bahwa penyajian makanan harus dilakukan dalam kondisi higienis, dengan suhu yang tepat, serta memperhatikan aspek keamanan dan kualitas gizi.
Dengan pengawasan yang ketat di setiap tahapan, para peneliti berharap program MBG dapat memberikan manfaat optimal tanpa mengabaikan aspek kesehatan dan keselamatan penerima manfaat.
Sumber: Kompas.com
PT. Indonesia Emas Group (IEG) adalah perusahaan holding yang bergerak dalam bidang pendidikan dan industri kreatif, IEG memiliki beragam bisnis yang saling mendukung meliputi penerbitan dan percetakan, pengadaan alat tulis kantor (ATK), distribusi buku fisik dan digital, serta pengadaan alat peraga pendidikan. Perusahaan ini juga bergerak dalam layanan konsultan pendidikan, serta menyediakan kursus dan pelatihan untuk mendukung pengembangan kompetensi dan keterampilan sumber daya manusia (SDM) di berbagai instansi.
Selengkapnya