Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai tidak akan menggeser peran pesantren dalam dunia pendidikan. Menteri Agama Nasaruddin Umar bahkan optimistis pesantren justru akan semakin diminati masyarakat pada masa depan.

Hal tersebut disampaikan Menag saat membuka Halaqah Nasional V Pimpinan Pondok Pesantren se-Indonesia di Jakarta. Menurutnya, meski AI berkembang sangat pesat dalam menyampaikan informasi dan pengetahuan, teknologi tetap memiliki keterbatasan dalam membentuk nilai dan karakter manusia.

Nasaruddin menilai kecerdasan buatan mampu melakukan transfer ilmu pengetahuan secara cepat, tetapi tidak dapat menggantikan proses pembentukan akhlak, keteladanan, serta penguatan spiritual yang selama ini menjadi ciri khas pendidikan pesantren.

Ia menegaskan, ruang pendidikan berbasis nilai dan spiritualitas menjadi kekuatan utama pesantren yang tidak dapat digantikan teknologi secanggih apa pun.

Dalam kesempatan itu, Menag juga mengingatkan para santri dan pengelola pesantren agar tidak merasa rendah diri menghadapi perkembangan zaman dan modernisasi pendidikan.

Menurutnya, pesantren justru memiliki keunggulan karena mampu menggabungkan pendidikan ilmu pengetahuan, humaniora, dan pembentukan karakter dalam satu sistem pembelajaran.

Nasaruddin turut menyoroti pendekatan pendidikan modern yang dinilai terlalu menekankan aspek mekanis dan intelektual semata. Ia menilai pesantren mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam dan membangun keseimbangan antara kecerdasan intelektual serta kedalaman batin.

Ia berharap pesantren tetap mempertahankan identitas dan nilai spiritualnya di tengah arus transformasi digital yang terus berkembang pesat.

Pemerintah pun mendorong pesantren terus beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan peran utamanya sebagai pusat pendidikan karakter, moral, dan pembentukan kepribadian generasi muda.

Sumber: Kompas.com

Post a comment

Your email address will not be published.

Related Posts