9:00 - 16:00 WIB
Senin - Sabtu
Di tengah penurunan anggaran pada tahun 2026, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI memastikan program peningkatan literasi masyarakat tetap menjadi prioritas. Berbagai penyesuaian dilakukan agar layanan dan gerakan membaca tetap berjalan meski ruang fiskal lebih terbatas dibanding tahun sebelumnya.
Kepala Perpusnas, E. Aminudin Aziz, menjelaskan bahwa lembaganya kini memfokuskan anggaran pada program-program yang paling mendesak. Salah satu dampaknya adalah penghentian sementara distribusi buku baru ke desa, Taman Baca Masyarakat (TBM), lapas, dan puskesmas. Sebagai gantinya, Perpusnas mengoptimalkan pemanfaatan jutaan buku yang telah didistribusikan selama dua tahun terakhir.
Menurut Aminudin, sebanyak 20.000 titik di berbagai daerah telah menerima masing-masing sekitar 1.000 buku melalui program distribusi pada 2024 dan 2025. Koleksi tersebut kini menjadi modal utama untuk terus menggerakkan budaya literasi tanpa harus menunggu pengadaan buku baru.
Selain memaksimalkan koleksi yang sudah tersedia, Perpusnas juga memperkuat peran masyarakat melalui penambahan Relawan Literasi Masyarakat (Relima). Jumlah relawan tahun ini meningkat dua kali lipat, dari sekitar 180 orang menjadi 360 orang yang akan membantu menghidupkan kegiatan membaca di berbagai daerah.
Relawan tersebut akan berkolaborasi dengan desa, komunitas, perpustakaan umum, rumah ibadah, hingga taman baca masyarakat agar pemanfaatan buku menjadi lebih aktif dan terstruktur. Meski memperoleh insentif dalam jumlah terbatas, Perpusnas meyakini semangat para pegiat literasi akan menjadi kekuatan utama dalam memperluas budaya membaca.
Tak hanya mengandalkan relawan, Perpusnas juga mengerahkan pustakawan, filolog, dan konservator ke berbagai perpustakaan daerah melalui program Hari Bakti Perpusnas yang dilaksanakan setiap hari Rabu. Para tenaga profesional tersebut memberikan pendampingan mulai dari pengelolaan perpustakaan, penyusunan katalog sederhana, hingga edukasi pelestarian naskah kuno.
Perpusnas menegaskan bahwa efisiensi anggaran tidak akan mengurangi komitmen dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Melalui optimalisasi koleksi yang sudah ada, penguatan relawan, dan pendampingan langsung di lapangan, lembaga tersebut berharap gerakan literasi nasional tetap berkembang meski menghadapi keterbatasan anggaran.
Sumber: Kompas.com
PT. Indonesia Emas Group (IEG) adalah perusahaan holding yang bergerak dalam bidang pendidikan dan industri kreatif, IEG memiliki beragam bisnis yang saling mendukung meliputi penerbitan dan percetakan, pengadaan alat tulis kantor (ATK), distribusi buku fisik dan digital, serta pengadaan alat peraga pendidikan. Perusahaan ini juga bergerak dalam layanan konsultan pendidikan, serta menyediakan kursus dan pelatihan untuk mendukung pengembangan kompetensi dan keterampilan sumber daya manusia (SDM) di berbagai instansi.
Selengkapnya