9:00 - 16:00 WIB
Senin - Sabtu
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengingatkan perguruan tinggi agar tidak sekadar mengikuti tren dengan membuka program studi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Menurutnya, pengembangan program studi baru harus didasarkan pada kebutuhan jangka panjang dan kualitas pembelajaran, bukan hanya karena tingginya popularitas AI saat ini.
Pernyataan tersebut disampaikan Stella Christie saat membuka Tanoto Scholar Gathering di Provinsi Riau. Ia menilai perkembangan AI memang membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, namun perguruan tinggi perlu memiliki strategi yang matang agar tetap relevan di tengah pesatnya kemajuan teknologi.
Menurut Stella, keberhasilan sebuah program studi AI tidak ditentukan oleh nama jurusannya, melainkan oleh materi yang diajarkan serta kemampuan kampus dalam membekali mahasiswa dengan kompetensi yang tidak mudah digantikan oleh teknologi. Ia mengingatkan bahwa apabila program studi hanya dibangun untuk mengikuti tren sesaat, keberadaannya berisiko kehilangan relevansi di masa depan.
Ia menjelaskan bahwa saat ini AI telah mampu melakukan berbagai tugas yang sebelumnya hanya dapat dikerjakan manusia, mulai dari menyediakan informasi, membantu menyelesaikan persoalan kompleks, hingga menjadi media pembelajaran. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut perguruan tinggi untuk mendefinisikan kembali peran pendidikan tinggi di era digital.
Stella menilai ada tiga fungsi utama yang harus terus diperkuat oleh perguruan tinggi, yakni menciptakan pengetahuan baru, mentransmisikan ilmu pengetahuan kepada masyarakat, serta melakukan kurasi terhadap berbagai informasi yang berkembang. Ketiga aspek tersebut dinilai menjadi nilai tambah yang harus dimiliki perguruan tinggi agar tetap menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan.
Ia juga menekankan pentingnya kemampuan mahasiswa dalam menghasilkan gagasan dan inovasi yang tidak dapat digantikan oleh kecerdasan buatan. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi harus mampu menciptakan pengetahuan baru, berpikir kritis, sekaligus memberikan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Selain itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan ilmu yang diajarkan tetap relevan dengan perkembangan zaman. Kampus juga diharapkan mampu membimbing mahasiswa agar dapat memilah informasi secara tepat serta memanfaatkan teknologi AI sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir manusia.
Melalui pendekatan tersebut, Stella berharap perguruan tinggi di Indonesia mampu memanfaatkan perkembangan AI sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan, sekaligus menyiapkan lulusan yang adaptif, inovatif, dan memiliki daya saing tinggi di tengah transformasi teknologi global.
Sumber: Kompas.com
PT. Indonesia Emas Group (IEG) adalah perusahaan holding yang bergerak dalam bidang pendidikan dan industri kreatif, IEG memiliki beragam bisnis yang saling mendukung meliputi penerbitan dan percetakan, pengadaan alat tulis kantor (ATK), distribusi buku fisik dan digital, serta pengadaan alat peraga pendidikan. Perusahaan ini juga bergerak dalam layanan konsultan pendidikan, serta menyediakan kursus dan pelatihan untuk mendukung pengembangan kompetensi dan keterampilan sumber daya manusia (SDM) di berbagai instansi.
Selengkapnya