Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah aktivitas vulkaniknya meningkat dalam beberapa hari terakhir. Dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar kawasan gunung api, tetapi juga mengganggu transportasi udara dan menyebabkan abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah.

Menanggapi kondisi tersebut, Anggota Komisi VIII DPR Maman Imanulhaq mendorong pemerintah memperkuat sistem mitigasi dan peringatan dini bencana. Menurutnya, erupsi gunung api memang tidak dapat dicegah, tetapi risiko terhadap masyarakat dapat diminimalkan melalui sistem pemantauan dan respons yang lebih baik.

Maman meminta pemerintah memastikan seluruh tahapan mitigasi berjalan, mulai dari pemantauan aktivitas gunung api, penyebaran informasi, hingga kesiapan evakuasi. Informasi mengenai perubahan status gunung dan potensi bahaya juga dinilai harus disampaikan secara cepat, akurat, dan mudah dipahami masyarakat melalui kanal resmi pemerintah.

Selain sistem peringatan dini, koordinasi antarinstansi juga dinilai penting untuk menghadapi dampak erupsi. Penanganan tidak hanya berkaitan dengan keselamatan warga, tetapi juga perlu mempertimbangkan sektor kesehatan, transportasi, pertanian, ketersediaan air bersih, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi adanya peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau sejak 4 September 2026. Peningkatan tersebut ditandai dengan erupsi yang terjadi berulang kali dan berlangsung secara terus-menerus.

Aktivitas vulkanik tersebut turut berdampak pada penerbangan. Pemerintah menutup sementara delapan bandara sejak Minggu, 6 September 2026, akibat kondisi abu vulkanik yang berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan.

Delapan bandara yang terdampak meliputi Bandara Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Husein Sastranegara, Budiarto Curug, Pondok Cabe, Taufik Kiemas, dan Atung Bungsu.

Penutupan sejumlah bandara tersebut berdampak pada 1.558 penerbangan, sementara sekitar 170.000 penumpang masih terdampak berdasarkan pemantauan Kementerian Perhubungan hingga Minggu sore.

Selain mengganggu penerbangan, abu vulkanik Gunung Anak Krakatau juga terpantau menyebar di atmosfer hingga ke sejumlah wilayah. Sebarannya mencakup Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.

Kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya kesiapan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi bencana vulkanik. Penguatan peringatan dini, penyampaian informasi yang terpercaya, serta koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko dan melindungi masyarakat dari dampak erupsi.

Sumber: Kompas.com

Post a comment

Your email address will not be published.

Related Posts