9:00 - 16:00 WIB
Senin - Sabtu
Kasus keracunan yang dialami ratusan anak setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Sidoarjo, Jawa Timur, mendapat perhatian dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi.
Arifah menilai, penanganan terhadap anak korban keracunan tidak cukup hanya berfokus pada kondisi kesehatan fisik. Pemulihan juga perlu mencakup aspek psikologis dan sosial, terutama untuk mencegah munculnya trauma setelah kejadian tersebut.
Menurutnya, anak perlu mendapatkan pendampingan agar dapat kembali merasa aman dan nyaman. Dukungan psikologis juga harus tetap diberikan setelah anak meninggalkan fasilitas kesehatan dan kembali ke sekolah maupun lingkungan pesantren.
Arifah mengingatkan agar kejadian tersebut tidak membuat anak takut untuk makan, enggan kembali ke sekolah, atau merasa mendapat stigma dan disalahkan atas apa yang terjadi.
Sementara terkait penyebab keracunan, Menteri PPPA meminta masyarakat menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi dari pihak berwenang. Menurutnya, penyelidikan harus dilakukan secara menyeluruh dengan menelusuri seluruh tahapan penyediaan makanan.
Pemeriksaan tersebut mencakup kondisi bahan baku, proses pengolahan, kebersihan, penyimpanan, pengemasan, hingga distribusi makanan sebelum diterima dan dikonsumsi oleh anak.
Arifah menilai, evaluasi tidak seharusnya hanya berfokus pada mencari pihak yang bertanggung jawab, tetapi juga mengidentifikasi celah dalam sistem agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Karena itu, ia mendorong dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap standar operasional prosedur (SOP) pelaksanaan MBG. Perbaikan perlu mencakup rantai pasok hingga proses makanan sampai ke penerima manfaat.
Selain itu, pengawasan dinilai perlu diperkuat melalui sistem quality control dan quality assurance yang dilakukan secara berlapis sebelum makanan diberikan kepada anak.
Menurut Arifah, memastikan keamanan makanan sekaligus melindungi kondisi psikologis anak merupakan bagian penting dalam penanganan kasus tersebut. Dengan evaluasi menyeluruh, pelaksanaan program MBG diharapkan dapat berjalan lebih aman dan memberikan perlindungan maksimal bagi anak.
Sumber: Kompas.com
PT. Indonesia Emas Group (IEG) adalah perusahaan holding yang bergerak dalam bidang pendidikan dan industri kreatif, IEG memiliki beragam bisnis yang saling mendukung meliputi penerbitan dan percetakan, pengadaan alat tulis kantor (ATK), distribusi buku fisik dan digital, serta pengadaan alat peraga pendidikan. Perusahaan ini juga bergerak dalam layanan konsultan pendidikan, serta menyediakan kursus dan pelatihan untuk mendukung pengembangan kompetensi dan keterampilan sumber daya manusia (SDM) di berbagai instansi.
Selengkapnya