Penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang semakin luas ternyata tidak hanya membawa perkembangan teknologi, tetapi juga meningkatkan kebutuhan energi dan air. Besarnya konsumsi tersebut mulai menjadi perhatian seiring pertumbuhan penggunaan layanan AI di berbagai bidang.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengungkapkan gambaran mengenai besarnya energi yang digunakan pusat data AI. Melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Stella menunjukkan data konsumsi listrik sejumlah pusat data AI di Amerika Serikat.

Menurut Stella, satu lokasi pusat data AI dapat mengonsumsi listrik hingga 11 gigawatt. Secara keseluruhan, konsumsi listrik pusat data AI saat ini mencapai sekitar 155 triliun watt-hour dan diperkirakan meningkat menjadi 465 triliun watt-hour pada 2030.

Data yang disampaikan Stella tersebut merujuk pada laporan International Energy Agency (IEA) 2026 bertajuk Key Questions on Energy and AI – Analysis.

Untuk menggambarkan besarnya angka tersebut, Stella membandingkannya dengan konsumsi listrik sejumlah negara. Ia menyebut penggunaan listrik untuk AI pada 2025 setara dengan konsumsi listrik Latvia dalam setahun. Angka tersebut diperkirakan setara dengan konsumsi Romania pada 2026, Ceko pada 2027, dan Italia pada 2028.

Konsumsi tersebut diproyeksikan terus meningkat seiring bertambahnya penggunaan AI. Stella memperkirakan pada 2029 kebutuhan listrik AI dapat menyamai konsumsi listrik Inggris Raya.

AI Juga Membutuhkan Banyak Air

Selain listrik, operasional pusat data AI juga membutuhkan air. Salah satu kebutuhan utamanya adalah sistem pendingin untuk menjaga suhu mesin tetap berada dalam batas aman saat beroperasi.

Stella menyebut penggunaan air untuk kebutuhan AI juga terus bertambah. Ia menggambarkan besarnya konsumsi tersebut dengan memperkirakan air yang digunakan AI pada tahun sebelumnya setara dengan kebutuhan air minum 1,2 juta orang yang kemudian menguap dalam proses pendinginan.

Laporan World Economic Forum (WEF) yang diterbitkan pada Januari 2026 juga menyoroti tingginya kebutuhan air dalam ekosistem AI. Menurut laporan tersebut, konsumsi air tidak hanya berasal dari pusat data, tetapi juga dari proses pembuatan chip dan pembangkit listrik yang menopang operasional AI.

Satu pusat data hyperscale dengan kapasitas sekitar 130 megawatt, misalnya, dapat menggunakan hingga 171 juta liter air setiap tahun, meskipun telah menerapkan sistem pendinginan yang efisien.

Secara keseluruhan, ekonomi AI saat ini diperkirakan mengonsumsi sekitar 23 kilometer kubik air per tahun. Penelitian Global Water Intelligence dan Xylem memperkirakan konsumsi tersebut dapat meningkat 129 persen menjadi lebih dari 54 kilometer kubik per tahun pada 2050.

Pertumbuhan AI di Tengah Tantangan Air Bersih

Peningkatan kebutuhan air tersebut menjadi perhatian karena terjadi ketika sejumlah wilayah di dunia masih menghadapi persoalan ketersediaan air bersih.

World Bank sebelumnya memperkirakan sekitar empat miliar orang hidup di wilayah yang mengalami kelangkaan air. Pada 2030, sekitar 1,6 miliar orang juga diperkirakan menghadapi keterbatasan akses terhadap air minum yang aman.

Data tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan komputasi dan inovasi teknologi. Di balik layanan AI yang digunakan sehari-hari, terdapat kebutuhan besar terhadap listrik dan air untuk menjalankan infrastruktur yang menopangnya.

Sumber: Kompas.com

Post a comment

Your email address will not be published.

Related Posts