Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 kembali menjadi sorotan. Komisi X DPR RI mengungkap masih maraknya praktik kecurangan dalam proses penerimaan siswa baru di berbagai daerah, mulai dari manipulasi dokumen hingga dugaan praktik titipan peserta didik.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Himmatul Aaliyah menegaskan bahwa sistem penerimaan murid harus berjalan adil dan transparan karena berkaitan langsung dengan hak dasar anak untuk memperoleh pendidikan.

Menurutnya, persoalan dalam SPMB tidak boleh terus berulang setiap tahun karena dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan nasional. Ia menilai, pendidikan yang berkualitas tidak akan tercapai jika proses seleksi masuk sekolah masih diwarnai praktik manipulatif.

Dalam evaluasi yang dilakukan DPR bersama sejumlah lembaga, ditemukan berbagai persoalan seperti pemalsuan data domisili, perpindahan alamat fiktif demi mendekati sekolah favorit, hingga keterbatasan daya tampung sekolah negeri di wilayah padat penduduk.

Komisi X juga menyoroti masih adanya daerah yang belum memiliki akses sekolah negeri memadai, sehingga banyak lulusan SMP kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA maupun SMK.

Selain itu, DPR mengingatkan adanya dugaan praktik pungutan liar dan intervensi oknum tertentu untuk meloloskan calon siswa di luar mekanisme resmi. Kondisi tersebut dinilai mencederai prinsip keadilan dalam dunia pendidikan.

Untuk mengatasi persoalan itu, DPR mendorong penguatan sistem digitalisasi penerimaan siswa dengan integrasi data kependudukan, data sosial ekonomi, dan data pendidikan antara pemerintah pusat dan daerah.

Komisi X juga meminta pemerintah daerah lebih serius mengalokasikan anggaran pendidikan, termasuk untuk pembangunan sekolah baru dan peningkatan kualitas guru, agar persoalan daya tampung tidak terus terjadi setiap tahun.

Himmatul menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh dijadikan kepentingan politik ataupun sektoral daerah. Ia berharap seluruh pihak dapat menjadikan SPMB sebagai sistem yang benar-benar berpihak pada masa depan anak-anak Indonesia.

Sumber: Kompas.com

Post a comment

Your email address will not be published.

Related Posts