9:00 - 16:00 WIB
Senin - Sabtu
Kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, mendapat perhatian setelah seorang siswi SMK Bersama Berastagi berinisial FP dilaporkan mengalami gangguan ingatan. Berdasarkan keterangan keluarga, FP bahkan sempat tidak mengenali anggota keluarga maupun teman sekolah yang datang menjenguknya.
Keluarga menyebut kondisi daya ingat FP mengalami penurunan cukup signifikan. Namun, hubungan antara keracunan yang dialami sebelumnya dengan gangguan neurologis tersebut masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan medis secara menyeluruh.
Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Neurologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Wahyu Wihartono, M.Kes., Sp.N., FMIN., menjelaskan bahwa secara medis, paparan toksin tertentu akibat keracunan makanan memang dapat memengaruhi fungsi otak dan sistem saraf.
Toksin dapat mengganggu kerja neurotransmiter, yakni zat kimia yang berperan dalam menyampaikan pesan antarsel saraf. Ketika proses komunikasi tersebut terganggu, sejumlah fungsi kognitif dapat ikut terdampak, mulai dari konsentrasi dan kemampuan berpikir hingga daya ingat.
Meski demikian, Wahyu menegaskan bahwa gangguan neurologis setelah keracunan tidak otomatis disebabkan oleh toksin secara langsung. Kondisi seperti kekurangan oksigen ke otak, gangguan metabolisme, maupun kejang berkepanjangan juga dapat memengaruhi fungsi sel saraf.
Karena itu, dokter perlu mempertimbangkan berbagai faktor sebelum menentukan penyebab gangguan ingatan. Pemeriksaan dapat mencakup jenis toksin yang diduga terpapar, tingkat paparan, riwayat penyakit, gejala klinis, serta pemeriksaan penunjang lainnya.
Wahyu juga mengingatkan agar gejala yang berkaitan dengan sistem saraf menjadi perhatian dalam kasus keracunan massal. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain gangguan kesadaran, kejang, kesulitan berbicara, perubahan perilaku, kelemahan anggota tubuh, hingga gangguan daya ingat.
Jika gejala tersebut muncul, pasien perlu segera mendapatkan pemeriksaan medis untuk mengetahui penyebabnya dan menentukan penanganan yang tepat.
Di sisi lain, gangguan ingatan yang muncul setelah kondisi keracunan tidak selalu berarti kerusakan otak permanen. Menurut Wahyu, anak-anak dan remaja pada umumnya memiliki kemampuan adaptasi dan pemulihan sistem saraf yang relatif baik.
Namun, peluang pemulihan tetap bergantung pada penyebab, tingkat keparahan gangguan, luas kerusakan, kecepatan penanganan, serta respons pasien terhadap terapi. Kondisi FP pun masih perlu dipantau secara berkala untuk melihat perkembangan fungsi saraf dan kognitifnya.
FP diketahui telah menjalani pemeriksaan elektroensefalografi (EEG) di RSUP H. Adam Malik Medan pada 7 September 2026. Pemeriksaan tersebut digunakan untuk merekam aktivitas listrik otak dan membantu dokter melihat kemungkinan adanya kejang atau pola aktivitas listrik yang tidak normal.
Meski demikian, hasil EEG tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan penyebab gangguan ingatan. Pemeriksaan neurologis, evaluasi fungsi kognitif, pemeriksaan laboratorium, hingga pencitraan otak dapat diperlukan sesuai dengan kondisi pasien.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa dampak keracunan makanan tidak hanya perlu dilihat dari gejala pencernaan, tetapi juga kemungkinan gangguan pada sistem saraf. Penanganan dan pemeriksaan menyeluruh menjadi penting untuk memastikan penyebab serta memperbesar peluang pemulihan pasien.
Sumber: Kompas.com
PT. Indonesia Emas Group (IEG) adalah perusahaan holding yang bergerak dalam bidang pendidikan dan industri kreatif, IEG memiliki beragam bisnis yang saling mendukung meliputi penerbitan dan percetakan, pengadaan alat tulis kantor (ATK), distribusi buku fisik dan digital, serta pengadaan alat peraga pendidikan. Perusahaan ini juga bergerak dalam layanan konsultan pendidikan, serta menyediakan kursus dan pelatihan untuk mendukung pengembangan kompetensi dan keterampilan sumber daya manusia (SDM) di berbagai instansi.
Selengkapnya