Abu vulkanik selama ini identik dengan dampak erupsi yang mengganggu kehidupan masyarakat. Material tersebut dapat menyelimuti permukiman, menghambat aktivitas, hingga menimbulkan gangguan kesehatan. Namun, di balik ancamannya, material vulkanik juga memiliki sejumlah manfaat ketika telah mengalami proses pelapukan.

Ahli vulkanologi sekaligus mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, menjelaskan bahwa material vulkanik yang telah melapuk dapat membentuk tanah dengan tingkat kesuburan tinggi. Endapan vulkanik juga memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai material konstruksi.

Salah satu contohnya dapat ditemukan di kawasan sekitar Gunung Semeru, Jawa Timur. Endapan material hasil aktivitas vulkanik di kawasan tersebut terdiri atas pasir, batu, hingga abu yang kemudian dapat dimanfaatkan setelah melalui proses yang sesuai.

Kesuburan tanah dari material vulkanik turut mendukung sektor pertanian. Banyak wilayah di sekitar gunung api bahkan dikenal sebagai penghasil komoditas unggulan. Kawasan Gunung Sinabung di Sumatera Utara, misalnya, menjadi salah satu daerah penghasil jeruk dan berbagai jenis sayuran yang memasok kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.

Selain pertanian, aktivitas vulkanik juga berpotensi memberikan manfaat melalui sumber daya air dan material yang mengandung berbagai unsur mineral. Surono menyebut sejumlah kandungan seperti sulfur dan fluor dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu, termasuk kesehatan dan perawatan kulit, tetapi penggunaannya harus melalui penelitian serta pengolahan yang tepat.

Menurutnya, kandungan tersebut tidak selalu aman jika digunakan secara berlebihan. Fluor, misalnya, memiliki manfaat bagi kesehatan gigi dalam kadar tertentu, tetapi paparan dalam jumlah tinggi justru dapat menimbulkan masalah kesehatan. Hal serupa berlaku pada sulfur yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan tertentu apabila kadarnya sesuai.

Meski memiliki manfaat jangka panjang, risiko abu vulkanik saat erupsi tetap perlu menjadi perhatian. Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa partikel abu berukuran sangat kecil dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan dan mencapai bagian dalam paru-paru.

Paparan abu dapat menyebabkan batuk, iritasi tenggorokan, gangguan pernapasan, hingga memperburuk kondisi penderita penyakit paru kronis seperti asma dan PPOK. Abu juga dapat memicu iritasi pada mata dan kulit. Jika mencemari makanan atau sumber air, material tersebut berpotensi menyebabkan gangguan saluran pencernaan. Gas vulkanik yang menyertai abu juga dapat menimbulkan keluhan seperti sakit kepala, pusing, dan gangguan pernapasan.

Untuk mengurangi risiko, masyarakat diimbau mengikuti informasi terbaru dari BMKG maupun lembaga resmi terkait kondisi erupsi dan kualitas udara. Penggunaan masker ketika berada di luar ruangan juga dianjurkan, terutama saat konsentrasi abu meningkat.

Masyarakat juga disarankan mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan, membersihkan pakaian dan perlengkapan setelah beraktivitas di luar, serta menutup pintu dan jendela agar abu tidak mudah masuk ke dalam rumah. Bagi masyarakat dengan penyakit kronis, konsultasi dengan dokter juga penting untuk memastikan pengobatan tetap sesuai kondisi.

Erupsi gunung api pada akhirnya menunjukkan dua sisi yang perlu dipahami secara seimbang. Material vulkanik dapat memberikan manfaat bagi kesuburan tanah dan kehidupan masyarakat dalam jangka panjang, tetapi ketika erupsi berlangsung, keselamatan dan kesehatan tetap harus menjadi prioritas utama.

Sumber: Kompas.com

Post a comment

Your email address will not be published.

Related Posts