9:00 - 16:00 WIB
Senin - Sabtu
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamen Dikdasmen), Fajar Riza Ul Haq saat memberikan arahan dalam kegiatan Pertemuan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI di Bogor, Selasa (11/11/25). (Sumber: KompasTv)
Jakarta — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menyatakan bahwa literasi di era digital telah bergeser maknanya: bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis cepat, melainkan proses memahami makna, menumbuhkan empati, dan membangun rasa kemanusiaan. Pernyataan ini ia sampaikan saat membuka kegiatan Pertemuan Relawan Literasi Masyarakat (Relima) yang dihadiri ratusan relawan literasi dari seluruh pelosok Indonesia.
Dalam sambutannya pada acara Relima yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI di Bogor pada Selasa (11/11/2025), Wamen Fajar menyampaikan bahwa tantangan literasi saat ini bukan hanya soal kecepatan membaca, melainkan kedalaman dan relevansi. Anak-anak muda yang tumbuh di era digital acapkali gagal menyerap makna karena informasi terlalu cepat dan dangkal.
“Membaca hari ini bukan soal cepat, tapi soal meresapi makna. Literasi adalah proses memahami hidup dengan kesadaran penuh.”
— Wamen Fajar
Ia menjelaskan bahwa transformasi digital pendidikan harus disertai evolusi nilai: literasi digital perlu dilengkapi dengan kesadaran etis, kemampuan berpikir reflektif, dan empati sosial. Tidak hanya menguasai gadget atau aplikasi, tetapi memahami konteks, arti, dan fungsi dari bacaan atau konten yang dikonsumsi.
Pada zona pendidikan dasar dan menengah, menurut Wamen Fajar, pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) menjadi landasan yang relevan. Ia mengaitkan literasi yang bermakna dengan sekolah yang membekali siswa untuk berpikir kritis, memahami nilai kemanusiaan, dan siap menghadapi tantangan global.
Kemendikdasmen telah menyiapkan sejumlah program konkret, seperti distribusi papan pintar (smart board), pengembangan kurikulum literasi digital dan karakter, serta pelatihan pendidik agar tidak hanya mengajar, tetapi membimbing siswa sebagai manusia utuh.
Ia juga menekankan peran para relawan literasi dan komunitas sebagai bagian dari ekosistem literasi. Relawan tidak hanya aktif di sekolah tetapi juga di masyarakat, menjembatani akses buku, membaca bersama, serta kegiatan literasi yang inklusif. Relima, menurutnya, menjadi pilar penting dalam upaya menjadikan literasi budaya sehari-hari.
“Literasi di era digital bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga tentang menumbuhkan makna, menumbuhkan empati, dan memperkuat rasa kemanusiaan.”
— Wamen Fajar.“Pendidikan bisa diakselerasi lewat teknologi. Tapi yang terpenting adalah bahwa guru harus menjadi aktivator pembelajaran yang bermakna.”
— Wamen Fajar, saat membahas digitalisasi pendidikan.
Pernyataan Wamen Fajar membuka jendela pemikiran baru bagi pendidikan Indonesia di era digital. Dengan literasi yang dimaknai sebagai proses memahami dan peduli, generasi masa kini dan mendatang dapat tumbuh bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berempati dan bermartabat.
Kelak, upaya menumbuhkan literasi bermakna akan menjadi salah satu pilar dalam pencapaian visi Indonesia Emas 2045 — bangsa dengan daya saing global yang tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
PT. Indonesia Emas Group (IEG) adalah perusahaan holding yang bergerak dalam bidang pendidikan dan industri kreatif, IEG memiliki beragam bisnis yang saling mendukung meliputi penerbitan dan percetakan, pengadaan alat tulis kantor (ATK), distribusi buku fisik dan digital, serta pengadaan alat peraga pendidikan. Perusahaan ini juga bergerak dalam layanan konsultan pendidikan, serta menyediakan kursus dan pelatihan untuk mendukung pengembangan kompetensi dan keterampilan sumber daya manusia (SDM) di berbagai instansi.
Selengkapnya