9:00 - 16:00 WIB
Senin - Sabtu
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan skema pembelajaran darurat bagi sekolah-sekolah yang terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kebijakan tersebut disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah dengan tetap menempatkan keselamatan siswa, guru, dan tenaga kependidikan sebagai prioritas.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengatakan kegiatan belajar tidak harus dilakukan dengan pola normal selama kondisi di wilayah terdampak belum memungkinkan. Sekolah dapat menerapkan pembelajaran darurat dengan menyesuaikan metode maupun materi berdasarkan situasi di lapangan.
Berdasarkan data Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) per 19 Agustus 2026, sebanyak 512 sekolah yang tersebar di tujuh kabupaten terdampak bencana. Kondisi tersebut turut memengaruhi 94.452 siswa serta 8.755 guru dan tenaga kependidikan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 276 sekolah dengan 52.268 siswa mengalami gangguan pembelajaran. Sebagian siswa harus mengikuti kegiatan belajar dari rumah maupun lokasi pengungsian karena kondisi sekolah belum memungkinkan digunakan seperti biasa.
Untuk mendukung kegiatan belajar selama masa darurat, Kemendikdasmen mulai menyalurkan bantuan ke sejumlah wilayah terdampak. Bantuan tersebut mencakup 2.000 paket bingkisan anak, 800 school kit, dan 70 family kit yang ditujukan untuk membantu kebutuhan siswa dan keluarga selama proses pemulihan.
Selain bantuan logistik, pemerintah juga menyiapkan panduan pembelajaran dalam situasi darurat. Panduan tersebut memberikan ruang bagi sekolah untuk menyesuaikan kegiatan belajar berdasarkan tingkat kerusakan fasilitas, ketersediaan sarana dan prasarana, kondisi siswa dan guru, serta situasi lingkungan sekitar.
Materi pembelajaran juga dapat diprioritaskan pada hal-hal yang paling penting bagi siswa, seperti literasi dan numerasi dasar, keselamatan diri, dukungan psikososial, serta pemulihan rutinitas belajar. Metode pembelajaran pun dapat dilakukan secara tatap muka terbatas, mandiri, maupun menggunakan metode alternatif lainnya sesuai kemampuan masing-masing sekolah.
Kemendikdasmen menilai aspek psikososial juga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Bencana tidak hanya berdampak pada aktivitas akademik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional siswa, guru, dan tenaga kependidikan.
Pemerintah berharap penyesuaian pembelajaran tersebut dapat memastikan hak pendidikan siswa tetap terpenuhi meskipun berada dalam situasi darurat. Dengan fleksibilitas metode dan dukungan yang diberikan, kegiatan belajar di wilayah terdampak diharapkan dapat berlangsung secara bertahap hingga kondisi sekolah kembali pulih.
Sumber: Kompas.com
PT. Indonesia Emas Group (IEG) adalah perusahaan holding yang bergerak dalam bidang pendidikan dan industri kreatif, IEG memiliki beragam bisnis yang saling mendukung meliputi penerbitan dan percetakan, pengadaan alat tulis kantor (ATK), distribusi buku fisik dan digital, serta pengadaan alat peraga pendidikan. Perusahaan ini juga bergerak dalam layanan konsultan pendidikan, serta menyediakan kursus dan pelatihan untuk mendukung pengembangan kompetensi dan keterampilan sumber daya manusia (SDM) di berbagai instansi.
Selengkapnya